Selasa, 26 Januari 2010

LATAR BELAKANG

Dilema Budaya Kontemporer 

Pertumbuhan dunia belakangan ini mendorong manusia memasuki kehidupan global yang luar biasa. Kita semakin mudah mendapatkan berbagai penemuan ilmiah, berinteraksi dengan manusia sejagad, serta membangun pasar internasional. Semua pencapaian itu tak lepas dari budi daya manusia untuk mempercanggih ilmu pengetahuan dan teknologi, jaringan komunikasi, dan perdagangan bebas. 
 Hanya saja, sebagaimana semakin disadari banyak kalangan, pencapaian kehidupan global sekarang ini juga memendam berbagai persoalan. Manusia terpukau pada kegemilangan hasil kerja kerasnya, dan mencoba menggantungkan hidup (bahkan sikapnya bisa dibilang mirip memper-Tuhan-kan) pencapaian akal budinya itu. Namun, saat bersamaan, samar-samar manusia juga menyadari adanya kerawanan atau semacam kerapuhan dalam pilihan-pilihan kehidupan sekarang ini. 
Salah satu bentuk penuhanan itu muncul pada ranah ilmu pengetahuan dan teknologi. Teknologi dianggap sebagai solusi andal untuk memecahkan berbagai persoalan. Teknologi dipercaya mampu menciptakan “manusia adi kodrati” dan menggantikan seluruh fungsi dan peran manusia, bahkan pada tingkat kesadaran yang seutuhnya (human consciousness). 
Namun, muncul juga pertanyaan: apakah ilmu pengetahuan dan tekhnologi memang telah benar-benar “mengalahkan” eksistensi manusia? Adakah mesin menjadi “Tuhan Baru” yang menggantikan kekuatan fisik dan rasio manusia?
Penuhanan lain hadir dalam bentuk pemujaan manusia atas dirinya sendiri. Manusia semakin yakin dengan keindahan fisik dan kepiawaian akal budinya sebagai solusi atas semua persoalan, bahkan mengalahkan alam semesta. Berbagai produk industri hiburan dewasa ini—seperti pusat perbelanjaan, film, fashion, televisi, media cetak, internet, atau radio—menempatkan manusia sebagai pusat dari kebudayaan dunia, bahkan dijunjung tinggi setingkat Tuhan. Pemujaan ini terkadang bersifat sangat dangkal, katakanlah seperti pencitraan tubuh seksi sebagai kurus-semampai yang dikejar-kejar semua kaum muda di seantereo jagad.  
Pada sisi lain, sebagian manusia semakin gelisah: benarkah manusia adalah pusat dari segalanya? Apakah kedirian manusia hanya diwakili citra tubuh yang permukaan? Lalu, di mana nilai-nilai kemanusiaan yang lebih dalam dan secara alami menempatkan manusia sebagai sosok yang kompleks yang kuat sekaligus lemah? 
Gejala serupa juga terjadi dalam dunia spiritual. Manusia-manusia urban dengan jumawa sering mengatakan, rahasia terpenting abad 20 adalah ketika mereka mampu menaklukkan alam dengan akal dan pikirannya, mengeksplorasinya dan bertahta atas nama modernisme yang telah melahirkan kebahagiaan sejati! Modernitas yang memuja akal budi dianggap cukup untuk memenuhi segala kebutuhan material dan spiritual manusia. 
Tapi benarkah? Banyak yang ragu. Kegagalan demi kegagalan budaya manusia abad 21 berangsur-angsur menyembulkan kesadaran: kebahagian sejati justru bersemayam dalam wujud paling hakiki pada jiwa manusia, bukan semata pada rasio. Pada akhirnya, manusia semakin terdorong untuk menggali dan mengembangkan budi, kebajikan, dan nilai-nilai spiritual lain. Kita bisa ambil contoh pada menguatnya fundamentalisme agama formal sekaligus hadirnya nabi-nabi palsu dari sekte baru. 
Paradoks kehidupan manusia dan kerapuhan kehidupan dunia inilah yang menjadi kegelisahan komunitas kreatif di Jakarta, ibukota Indonesia, yang tergabung dalam Jakarta Art Movement (JAM). Kegelisahan itu diwujudkan lewat pameran seni rupa bersama dengan memanfaatkan beragam media. 
  



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar